Minggu, 07 September 2014

Mawar Melati (1)

Minggu, 7 September 2014



Tiga minggu yang lalu ...
Secara fakta, perbuatannya telah terbukti salah dan aku sebagai korban. Tetapi sampai saat ini  dia belum bisa menerima kesalahannya jika dilihat dari tingkah lakunya, dia menyimpan dendam terhadapku. Aku tidak membuat masalah padanya. Aku biasa saja padanya. Tapi tahukah, ini fakta yang terjadi padaku ... Dia menyimpan dendam.
 

 
Saat ini ...

1) Ketika Mawar diberi rezeki Rp. 200.000,00 dari Mbak Dian. Mawar terkesan malu untuk menerimanya dan pura-pura menolak, namun ujungnya diterima juga uangnya. Dan Mawar mengucapkan terima kasih lalu dengan sungkan dia berkata bahwa pemberian Mbak Dian terlalu banyak. Lalu Mbak  Dian bilang bahwa yang Rp. 100.000,00 kasihkan ke Melati. Lalu Mawar memberiku uang Rp. 100.000,00 sambil berkata kepadaku, "Heh arek sing paling elek atine, iki duekmu!" Karena aku merasa nggak se-level buat kisruh sama dia, aku diam saja dan menerima uang tersebut. Lalu aku mengucapkan terima kasih ke Mbak Dian dan mendo'akan agar Mbak Dian diberi rezeki yang banyak nantinya. Prinsipku, aku hanya merespon kata-kata yang baik saja.

2) Ketika berbincang dengan Pak Didik, Mbak Dian, Ayah, Pak Untung, Ibuk, Aku, dan saudaranya Mbak Dian. Pak Didik memuji Mawar, "Wah Mawar semakin tinggi saja. Melati jauh lebih tinggi daripada Mawar."
Mawar tersipu malu dan senang.
Lalu Pak Didik melanjutkan, "Kok Melati kalah tinggi sama kamu Mawar? Jangan-jangan makanannya Melati kamu rebut semua ya? Makanya Melati jadi kurus dan pendek. Wkwkkwk” Pak Didik melucu sambil tertawa. Akupun juga ikut tertawa.
Dengan sontak Mawar tiba-tiba menyanggah, "Gak Pak Didik. Melati nggak pernah pulang ke rumah..!"
Aku langsung heran. Aku sudah diam saja. Aku nggak bikin gara-gara. Mawar malah menuduhku nggak pulang ke rumah. Dia suka ngurusin dan menciptakan masalah dengan menuduhku yang bukan-bukan. Padahal dia tahu kalau aku lagi berjuang keras menyelesaikan skripsi. Aku nggak pulang ke rumah selama 2 minggu dan setiap 3 hari sekali aku sms Ayah dan Ibu untuk memberi kabar dan menanyakan tentang bagaimana kabar disana. Lucunya ketika Mawar bilang begitu, masih belum selesai ngomong, Pak Didik langsung diajak ngobrol sama Ayah. Mawar terlihat  dongkol dan dikacangi.

3) Ayah bertanya kepadaku, "Kamu masih ada dendam sama Mawar ta? Kok daritadi aku ngeliat kamu selalu menjauhi Mawar. Nggak pernah ngajak ngomong Mawar."
Lalu aku menjawab, "Sama sekali tidak ada dendam, Yah. Biasa saja. Aku lupakan begitu saja kesalahannya. Ada apa, Yah?"
Lalu Ayah menjelaskan, "Mawar memberitahu aku semua smsmu kepadanya. Kalau sms, jangan dengan cara seperti itu. Sms dengan cara seperti itu sangat menyakitkan hati."
Lalu aku menjelaskan, "Aku akui memang aku sms seperti itu. Aku sms seperti itu ketika kejadian itu berlangsung dan Mawar memutar balik fakta, makanya aku kelepasan. Aku sudah menjelaskan dan meminta maaf pada Mawar bahwa aku sedang kelepasan selama satu jam saja. Selebihnya aku memberi saran dan nasihat yang baik kepada Mawar, diterima atau tidak itu terserah keputusannya. Tapi sepertinya dia masih tidak mau menerima, karena aku melihat dia mempublikasikan statusnya di Facebook dan BBM yang semua isinya adalah menyindirku dengan fakta yang berkebalikan. Lalu untuk selanjutnya aku memberi pesan yang baik kepada Mawar. Apakah Ayah hanya diberitahu -sms jelekku yang sedikit-, sedangkan banyak -sms baik dariku kepada dia- tidak diberitahu oleh Mawar?
Lalu Mawar membantah, "Lho wes tak balesi nang Line-ne Ian. Kamu gak moco ta?!
Aku menjawab,  "Ian sudah nggak punya Line."
Jawabanku salah, seharusnya aku menjawab begini: Selama ini aku mengirimimu message langsung ke private message Facebook dan BBM-mu. Tapi kenapa kamu malah membalas messageku dengan mengirim lewat orang lain? Apakah kamu sengaja menyebarkan tuduhan yang tidak masuk akal terhadapku kepada orang lain agar orang lain ikut menjelekkanku sesuai hasutanmu? Ataukah kamu takut mengirimkannya di private messageku langsung?
Lalu ayah menjelaskan kepada Mawar, "Nah itu kan masalahnya kamu tidak meminta izin buat meminjam barang milik orang lain, Mawar."
Lalu Mawar membantah, "Dari kecil aku meminjam barangnya Melati selalu nggak dibolehin sama Melati. Ya sudah aku meminjam gak bilang-bilang. Soalnya seumur hidup tasku jelek, nggak pernah punya tas bagus. Ini aja aku baru beli tas bagus gara-gara mendapat rejeki dari Mbak Dian!"
Aku langsung kaget. Tunggu. Kapan aku nggak pernah mengizinkannya untuk meminjam barangku? Aku selalu memberinya izin, tapi kalau ada kerusakan atau kehilangan ya jelas aku meminta pertanggung jawabannya. Tapi tetap saja, dulu dia tidak pernah mau bertanggung jawab. Malah memutar balikkan fakta dan menyalahkanku. Intinya dia tidak mau disalahkan. Dan kalau disalahkan, dia akan menciptakan jalan cerita yang semakin runyam yang isinya hanya menuduhku dengan fitnah yang berkebalikan. Mencari beberapa orang untuk dia hasut dan menyalahkanku. Dia dendam dan akhirnya untuk selanjutnya dia meminjam barangku tanpa meminta izin. Ini yang membuatku merasa privasiku terganggu. Dia bilang, dia tidak pernah punya tas bagus? Eits, tas yang dia pakai selama ini harganya kurang lebih Rp. 200.000,00 dan dibelikan Ayah. Sedangkan tasku harganya hanya Rp. 50.000,00 dan beli sendiri dari uang hasil tabungan jerih payahku sendiri. Jelas tasnya lebih merk daripada tasku.

Apa yang diucapkan, berbanding terbalik dengan kenyataan. Aku biasa saja, sempat heran dengan pernyataan yang seperti itu. Aku tidak memusingkannya, langsung lanjut saja ke fakta selanjutnya. Lalu Ayah membahas masalah lain dengan Ibu.

4) Waktu menjelang tidur. Aku menata bantal pada tempat tidur secara sejajar seperti ini

C = Melati
M = Mawar

Lalu ketika Mawar datang ke tempat tidur, Mawar merubah posisi bantalnya menjadi berlawanan denganku, yaitu seperti gambar di bawah ini:

C = Melati
M = Mawar

Hmmm anak ini. Sebenarnya yang cari perkara itu siapa. Dia sendiri yang berusaha menghindari dan mencaciku tapi aku yang dituduh oleh Ayah bahwa aku menghindari Mawar dan mencaci Mawar? Semakin profesional saja skill hasutannya. Aku sudah terbiasa seperti itu dari kecil selama 16 tahun bersama Mawar. Sudah biasa diperlakukan seperti itu juga sama orang lain yang memiliki sikap yang sama dengan Mawar. Aku hanya heran saja. Mawar membuat salah, bukannya Mawar membaikiku dan meminta maaf, tapi malah memojokkanku dalam kondisi sulit. Mengadu domba antara aku dengan Ayah.
Ckckckkc .. Semoga Allah membuka pintu hatimu ya Mawar.

Aku tidak bisa bersikap keji terhadap siapapun. Waktu Mawar sudah tidur pulas. Dan aku berada di sampingnya sambil mengetik ini. Ibuku melihatku dan menanyakanku, "Sedang apa kamu nak? Sudah malam, ayo tidur."
Aku: "Sebentar buk, masih ngerjakan proposal hehehe..."
Ibu: "Kalau begitu lampunya dinyalakan saja. Nanti kamu sakit mata lho mengetik dalam kegelapan begini."
Aku: "Sudahlah buk, Aku juga sudah terbiasa begini di kos. Nggak sakit mata kok buk, kan layar laptopnya aku redupin."
Ibu: "Dinyalakan saja laah.." (Ibuku sambil menyalakan lampu).
Aku: "Matikan aja buk lampunya. Nanti kalau dinyalain, malah Mawar bangun. Biarkan dia tertidur pulas buk."
Ibu: "Oh ya sudah kalau begitu."

Mawar.. Aku tidak bisa membalas kejahatanmu, jadi sampai kapan kamu menjahatiku seperti ini? Karena aku tidak bisa berbuat jahat pada orang lain. Kita beda level. Seharusnya kamu menjahati orang yang juga bisa menjahatimu,

NB: Ini hanya curahan fakta saja. Setiap orang pasti ingin bercerita tentang beban hidupnya. Tapi aku bukan tipe orang yang suka menggosip dan membeberkan kepada orang di sekitarku, maka aku mencurahkannya lewat tulisan saja. Semoga Allah senantiasa memberiku kekuatan hati :) Amin
Mawar dan Melati, bukan nama sebenarnya :D